Sabtu, 02 Mei 2009

Syekh Yusuf (1626-1699)

Posted by Asas CnC @rt On 04.17
Syekh Yusuf (1626-1699): Ulama, Sufi, Pengarang, Pahlawan

Catatan ringkas Taufiq Ismail

Yusuf dilahirkan pada tahun 1626 di lingkungan keluarga raja Gowa. Makassar, menuntut ilmu sejak umur 18 di Banten dan Aceh, kemudian mengembara mencari ilmu ke Yaman, Makkah, Madinah dan Damaskus. Setelah menjadi guru di Masjidil Haram (Makkah) dan dipanggil dengan gelar Syekh, pada usia matang 38 tahun pulang ke tanah air (1664), mengajar di Banten dan menjadi Mufti di istana Sultan Ageng Tirtayasa selama 18 tahun. Dia adalah guru sufi thariqat Khalwatiyah. Naqsyabandiyah, Qadiriyah, Ba’alawiyah dan Syattariyah. Di antara para ulama di Banten, beliaulah yang paling disegani.

Syair Syekh Yusuf

Posted by Asas CnC @rt On 04.12
TANJUNG

Taufiq Ismail

kepada saudara-saudaraku di Cape

hilang berabad, demikian lamanya

Apa arti Afrika bagiku, begitu aku bertanya sendiri

Suatu malam pada minggu ketiga syawal ini

Langit jernih dan bulan sabit di atas Desa Pandan

Apa makna Afrika kawasan selatan bagiku dalam perjalanan

Aku bersimpuh sunyi di lantai masjid Kampung Pandang

Puisi Kedua

Posted by Asas CnC @rt On 04.10
Taufiq Ismail

SEMBILAN BURUNG CAMAR TUAN YUSUF

Sekarang bayangkanlah saya

memegang terali kubur pertama Tuan Yusuf, dan

memandang bekas tumpak bumi yang pernah menating

jenazahnya.

Daeng Kanduruan Ardiwinata

Posted by Asas CnC @rt On 04.05
Tokoh Sastrawan Sunda dan Sesepuh Paguyuban Pasundan

Oleh: H. D. Mangemba

“DAENG Kanduruan Ardiwinata merupakan seorang sastrawan Sunda yang banyak dibicarakan orang, baik yang bertalian dengan riwayat hidupnya hasil karyanya. Di antara para penulis yang pernah membicarakan adalah Ajib Rosidi dan Utuy Tatang Santani,” demikian kata pengantar Tini Kartini dalam bukunya yang berjudul “Daeng Kanduruan Ardiwinata Sastrawan Sunda” (1979).

1. Siapakah Daeng Kanduruan Ardiwi-nata itu?
Dia dilahirkan pada tahun 1866 di Desa Kejaksaan Girang, Bandung dan meninggal 12 Januari 1947 di Manonjaya, Tasikmalaya. Kakek Daeng Kanduruan Ardiwinata yang bernama Karaeng Yukte Desialu adalah raja Lombok dari Makassar yang dibuang ke Bandung oleh pemerintah Belanda karena memberontak. Ia dibuang bersama putranya, Baso Daeng Pasau alias Daeng Sulaeman, dan kakeknya, Karaeng Ballasuka.

Masuknya Etnis Bugis di Kalbar

Posted by Asas CnC @rt On 03.47
Bermula dari Perang Saudara

Masuknya orang Bugis di Kalimantan Barat bermula dari kedatangan Daeng Mataku yang menikah dengan Ratu Malaya, salah seorang anak Pangeran Agung dari Kerajaan Sukadana.

Daeng mataku ini pernah membantu menyerang Istana Sultan Zainuddin; pada tahun 1710 atas suruhan Pangeran Agung, saudara kandung Zainuddin. Karena jasanya itu, Daeng Mataku diangkat menjadi panglima. Keturunan Daeng Mataku kini tersebar di daerah Sukadana dan sekitarnya.